• Si predator eksotik, hewan bercorak loreng-loreng ini mampu berlari dengan kecepatan sampai 60 km/jam. Cakar tajamnya sanggup mencabik mangsa cukup dengan satu sikatan saja. Suara aumannya bahkan juga dapat kedengar sampai 3 km.
  • Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) sebagai spesies yang langka di dunia. Kehadiran badak jawa di Indonesia cuma di TNUK dan teronsentrasi di Semenanjung Ujung Kulon.
  • Burung rangkong atau enggang merupakan Satu diantara burung mempunyai ukuran besar sebagai kekayaan fauna di Indonesia. Disamping ukuran tubuhnya yang besar, rangkong pun miliki paruh besar, panjang, tetapi enteng.
  • Owa Jawa atau Hylobates moloch ialah semacam primata anggota suku Hylobatidae dengan angka populasi di antara seribu sampai dua ribu ekor saja.
  • Sesuai namanya, Jalak Bali burung yang mempunyai nama Leucopsar rothschildi datang dari Pulau Bali. Warga di tempat mengenalinya sebagai curik putih atau curik Bali dan sudah jadi maskot Pulau Dewata semenjak 1991.
Showing posts with label hewan langka. Show all posts
Showing posts with label hewan langka. Show all posts

Thursday, April 28, 2022

23 Jenis hewan langka di indonesia yang dilindungi karena terancam punah


 Hewan langka di Indonesia hampir musnah karena komunitas yang menyusut sampai pemburuan. Beberapa kementerian di Indonesia sampai beragam instansi internasional coba membuat perlindungan hewan-hewan epidemik Indonesia ini dari kemusnahan.

World Wild Fund (WWF) memeriksa daftar beberapa hewan langka Indonesia yang diproteksi oleh dunia internasional dengan status critically endangered, yakni hewan-hewan yang semakin rawan dengan kemusnahan. Yok, ketahui dan menjaga hewan langka berikut dan komunitasnya.

Jenis hewan langka di indonesia yang dilindungi karena terancam punah


1. Harimau Sumatera


Harimau Sumatera

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) sebagai satwa diproteksi yang komunitasnya di alam hampir musnah, pemerintahan sudah memutuskan peraturan dalam RPJM tahun 2015- 2019 terhitung tipe yang penting dipertingkat komunitasnya, ini searah dengan loyalitas global lewat 13 negara yang mempunyai Harimau yang di tahun 2010 di St. Pietersburg Rusia sudah setuju untuk bersama lakukan usaha tingkatkan komunitas satwa Harimau di alam.

Indonesia sebelumnya mempunyai 3 spesies Harimau, tetapi sekarang ini dua spesies Harimau sudah dipastikan musnah yakni Harimau Bali (tahun 1940 an) dan Harimau Jawa (tahun 1980an) dan sekarang ini tinggal Harimau Sumatera yang komunitasnya di alam sama sesuai pengkajian terkini diprediksi tinggal sekitaran 600 ekor.

Berdasar UU no lima tahun 1990, pelestarian sumber daya Hayati sebagai tanggung-jawab pemerintahan dan warga. PT Tidar Kerinci Agung (PT.TKA) sebagai elemen dari warga ikut serta lakukan usaha pelestarian dengan membuat Pusat Pemulihan Harimau Sumatera di Dharmasraya (PRHSD) sebagai usaha untuk merehabilitasi kembali Harimau Sumatera.

Harimau Sumatera "Leony" sebagai satwa sitaan dari warga yang dipercayakan ke Pusat Pengamanan Satwa ASTI di Bogor semenjak Februari 2010 dan sudah memiliki kemampuan hukum permanen.

"Leony" harimau Sumatera betina sekarang ini berusia sekitaran delapan tahun dengan berat sekitaran 70 kg belakangan ini sudah dipindah dari ASTI ke PRHSD untuk direhabilitasi saat sebelum dilepaskan ke komunitas alaminya.

Pengesahan PRHSD PT. TKA jadi sisi dari serangkaian aktivitas dalam peringatan Global TIGER DAY yang diperingati tiap tanggal 29 Juli, yang di tahun ini diperingati di 8 (delapan) kota di Pulau Sumatera dan 2 (dua) kota di Pulau Jawa. Perayaan ini untuk mengingati kita jika komunitas Harimau sekarang ini di alam telah turun dan terus memperoleh penekanan hingga perlu usaha dan support warga supaya tidak musnah.

Acara pengesahan PRHSD ini bersamaan dengan serangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diputuskan oleh UNEP dengan topik "Connecting People with Nature, Bersatu dengan Alam ", dengan arah untuk menghidupkan warga dalam tingkatkan global dalam selamatkan Harimau.

2. Gajah Sumatera



Gajah sebagai ‘spesies payung' untuk komunitasnya dan sebagai wakil keberagaman hayati dalam ekosistem yang kompleks tempatnya hidup. Sekarang ini, ada dua spesies gajah di Indonesia, yaitu Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan Gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis). Berdasar instansi pelestarian internasional, IUCN (International Union for Conservation of Nature), ke-2 spesies gajah itu masuk ke status Krisis (Critically Endangered/CR).


Gajah Sumatera memiliki ukuran tinggi tubuh sekitaran 1,7 - 2,6 mtr.. Bila dibanding dengan Gajah Afrika, ukuran Gajah Sumatera lebih kecil. Gajah Sumatera masuk ke satwa diproteksi menurut Undang-Undang No 5 Tahun 1990 mengenai Pelestarian Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan ditata dalam ketentuan pemerintahan, yakni PP 7/1999 mengenai Pengawetaan Tipe Tumbuhan dan Satwa.

Berdasar pengkajian WWF-Indonesia, dalam range 25 tahun, Gajah Sumatera sudah kehilangan sekitaran 70% komunitasnya, dan komunitasnya berkurang sampai lebih dari setengah. Perkiraan komunitas tahun 2007 ialah di antara 2400 - 2800 pribadi, tetapi sekarang diprediksi sudah turun jauh dari angka itu karena komunitasnya terus berkurang dan pembunuhan yang tetap terjadi.

Khusus untuk di daerah Riau dalam seperempat era paling akhir ini perkiraan komunitas Gajah Sumatera, yang sudah lama jadi benteng komunitas gajah, turun sejumlah 84% sampai sisa sekitaran 210 ekor saja pada tahun 2007. Lebih dari 100 pribadi Gajah yang telah mati semenjak tahun 2004.

3. Badak Jawa



Komunitas Badak Jawa atau Badak Cula Satu (Rhinoceros sondaicus) semakin bertambah dengan kelahiran dua ekor anak Badak di Teritori pelestarian Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Kabupaten Pandeglang, Banten.

Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) ialah tipe satwa sangat jarang yang masuk ke 25 spesies target utama pelestarian Pemerintahan Indonesia. IUCN masukkan spesies Badak Jawa ke status Critically Endangered (krisis) dan CITES mengategorikannya ke Appendix I.

4. Banteng



Hewan langka Indonesia seterusnya yakni banteng. Menurut BPS, di tahun 2017 jumlah banteng hanya ada 270 ekor. Mencuplik dari ksadae.menlhk.go.id, dijumpai jika banteng yang hidup di Indonesia ada dua tipe yakni Bos javanicus javanicus yang berada di Pulau Jawa dan Bos javanicus lowi di Kalimantan.

5. Owa jawa



Berdasarkan keterangan di indonesia.go.id, owa jawa sebagai primata dengan ciri-ciri tidak berbuntut dan lengannya lebih panjang dibanding badannya. Tangan owa selainnya panjang rupanya beroro kuat karena umumnya dipakai sandaran mengayun dan beralih dari 1 pohon ke pohon lain. Dari data yang dipunyai BPS, di tahun 2017 jumlah owa cuma 492 ekor.

6. Orang Utan


Orang Utan

Hewan langka seterusnya yakni orang utan. Mencuplik dari indonesia.trevel, orang utan epidemik Indonesia minimal ada tiga tipe yakni orang utan sumatera, orang utan kalimantan, dan orang utan tapanuli. Keunikan tertentu warna bulu-bulu coklat kemerahan dan orang utan dari Kalimantan mempunyai ciri-ciri muka besar dengan pelipis seperti bantal. Dalam pada itu, orang utan tapanuli sebagai spesies baru dan diketemukan di Ekosistem Tangkai Toru. Spesies ini hampir musnah dan keadaannya benar-benar memprihatinkan. Komunitas orang utan berdasar data BPS di tahun 2017 cuma da 1.890 ekor saja. Bahkan juga di tahun 2015 komunitasnya sempat ada di angka 143 ekor.

7. Bekantan



Merilis dari indonesia.go.id, bekantan sebagai primata dengan ciri-ciri hidung besar. Tinggi bekantan jantan capai 66 sampai 72 cm, dengan berat 16 - 23 kg. Dan bekantan betina mempunyai ptinggi 51 - 61 cm dan berat 7 - 11 kg. Komunitas bekantan di tahun 2017 berdasar data di BPS hanya ada 1.365 ekor saja.

8. Komodo



Komodo ialah hewan ciri khas yang berada di negara Indonesia dan sekarang hampir musnah. Menurut ahli arkeologi, komodo telah ada semenjak jaman prasejarah. Diprediksi sekitaran 30 juta tahun kemarin.

Prediksi ini makin kuat sesudah ditemukan fosil hewan dengan formasi kerangka yang seperti badan sang kadal raksasa ini. Selainnya dikatakan sebagai kadal raksasa, komodo dikenal juga dengan kadal purba paling besar.

Komodo dapat mengalami perkembangan dan mempunyai panjang sampai 3 mtr. dan berat sampai 68 kg. Lantas apa bukti mengenai komodo yang memikat buat pelajar kenali? Yok baca

Bukti Komodo ialah Hewan Ciri khas yang Berada di Negara Indonesia:

1. Kadal Paling besar di Dunia


Komodo ialah kadal paling besar dan paling tinggi di dunia. Mempunyai nama latin Varanus komodoenesis, bila disaksikan dari fisiknya untuk komodo jantang punyai berat yang semakin besar dibanding dengan komodo betina.

Karena tubuhnya yang besar, komodo mempunyai gerakan yang lamban yaitu sekitaran 8-10 km /jam. Namun pada keadaan terancam atau takut, mereka bisa lari sampai kecepatan 18 km /jam.

2. Asal Komodo


Dikutip dalam buku "Tutorial Riwayat Ekologi Taman Nasional Komodo" oleh Arnaz Mehta Erdmann, salah satunya teori menjelaskan komodo datang dari Asia atau Australia.

Hewan namanya latin Varanus komodoenesis ini lakukan migrasi dari Australia ke Kepulauan Timur Indonesia dan datang di Pulau Flores 900.000 tahun lalu.

Riset yang diedarkan dalam jurnal PLOS One tahun 2009, Komodo musnah dari Australia sekitaran 50.000 tahun kemarin. Proses migrasi ini diperhitungkan terjadi saat tinggi air laut lebih rendah 85 mtr. dibanding dengan keadaan di era ke-21. Hingga komodo dapat gampang lakukan migrasi dari Flores ke beberapa pulau sekelilingnya.

Di Indonesia, komunitas komodo banyak dijumpai di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Gili Motang dan sejumlah kecil pada bagian utara dan barat Flores.

Diambil dari jurnal dengan judul Pengkajian Ekologi dan Status Kehadiran Komodo di Pulau Padar Taman Nasional Komodo kreasi Abdul Haris Mustari, dkk. komodo di Pulau Padar tidak diketemukan kembali diperhitungkan karena permasalahan ekologi seperti berkurangnya kualitas dan jumlah makanan, air, dan satwa yang lain berkaitan dengan kehidupan komodo.

3. Komodo Betina Bisa Berkembangbiak Tanpa Kawin

Tahun 2006, periset mengonfirmasi jika komodo ialah hewan ciri khas yang berada di negara Indonesia ini untuk betina bisa mereproduksi secara aseksual lewat proses yang disebutkan partenogenesis. Bila tidak ada jantan, komodo betina bisa bertelur.

Riset itu dilaksanakan pada dua kebun binatang di London yang menjaga komodo betina tanpa pasangan. Beberapa telur dari cengkramannya memperjelas jika tidak ada jantan yang berperan pada pembuahan.

4. Indera Penciuman Kuat

Komodo dikenali mempunyai indera penciuman yang kuat. Komodo dijumpai bisa membau sampai jarak 5-11 km. Mereka lebih memercayakan indera pembau daripada pandangan walau mereka mempunyai pandangan yang bagus.

Saat sedang membau, komodo akan menjulurkan lidahnya. Waktu itu, mereka sedang tangkap partikel zat kimia dari tanah dan udara.

5. Komodo Suka Bermain

Walau kemunculannya kelihatan buas dan menakutkan. Namun komodo sukai bermain. Pribadi yang berbahagia sudah dilihat bermain dengan sekop dan sepatu. Langkah pribadi berhubungan dengan object bisa dibuktikan tanpa invasi atau motivasi untuk makan dan bisa dipandang seperti bermain.

9. Jalak Bali Indonesia.



Jalak bali sebagai hewan epidemik. Komunitas satwa ini pada 2017 cuma sisa 39 ekor saja. Keunikan dari satwa ini bertubuh warna putih dengan ujung ekor dan sayap warna hitam.

10. Maleo



Maleo atau Macrocephalon maleo sebagai hewan epidemik Sulawesi. Burung ini mempunyai komunitas di teritori pantai berpasir panas atau pegunungan yang mempunyai sumber air panas. Komunitas maleo yang terdaftar di BPS di tahun 2017 hanya ada 1.204 ekor. Indonesia.go.id, mengatakan perampokan telur burung ini membuat kelestarian komunitasnya terancam.

11. Babi Rusa


Babi Rusa

Hewan langka seterusnya yakni babi rusa. Komunitas hewan ini alami peningkatkan meskipun masih juga dalam kelompok sedikit. Di tahun 2015 komunitasnya cuma 29 ekor. Dan di tahun 2016 komunitasnya naik jadi 68 ekor. Dan tahun 2017, komunitasnya bertambah sampai 616 ekor.

12. Anoa



Komunitas anoa berdasar data BPS hanya ada 417 pada tahun 2017. Berdasarkan keterangan di e-Jurnal Partner Sians 3(2), aspek terpenting yang mengakibatkan satwa ini jadi sangat jarang karena kerusakan komunitas. Pendayagunaan rimba yang bertambah, pernangkatan, sampai pemburuan liar membuat komunitas anoa terus alami pengurangan.

13. Elang



Elang jadi hewan langka seterusnya. Burung yang ini populer sebagai maskot banyak daerah. Macamnya cukup bermacam. Berdasarkan keterangan di indonesia.go.id, elang flores jadi tipe elang yang alami kelangkaan. Hewan epidemik ini mempunyai ukuran badan 71 sampai 82 cm. Komunitasnya menyebar di Flores yang mencakup Pulau Lombok, Sumbawa, Pulau Satonda, Rinca, dan Flores.

14. Tarsius



Tarsius atau tarsius kerdil sebagai hewan epidemik Sulawesi tengah. Badannya kecil dengan berat tubuh cuma sekitaran 50 gr. Hewan ini mempunyai bulu-bulu halus dengan warna abu atau cokelat gelap. Komunitas tarisus berdasar data di BPS di tahun 2017 hanya ada 82 ekor saja.

15. Monyet Hitam Sulawesi

Monyet Hitam Sulawesi

Hewan langka yang diproteksi di Indonesia selanjutnya yakni monyet hitam sulawesi. Dari data BPS, komunitas monyet hitam ini hanya ada 63 ekor saja di tahun 2017. Berdasarkan keterangan di Jurnal Realtech 15(1), kelangkaan komunitas monyet hitam ini karena jumlahnya pemburuan liar dan dimakan warga sekitaran.

16. Kura-kura Leher Ular



Kura-kura Leher Ular sebagai salah satunya spesies yang masuk ke kelompok hewan yang diproteksi di IUCN, dia datang dari Pulau Rote NTT. Kura-kura Leher Ular masuk ke kelompok satwa epidemik, dan juga masuk ke kelompok 25 spesies kura-kura paling hampir musnah di dunia.

Komunitas alami Kura-kura Leher Ular ialah Danau Peto, yang tidak diketemukan kembali sampai sekarang ini, ini karena eksplorasi yang sudah dilakukan terlalu berlebih dan pindah peranan pada tempat pertanian. Keunikan kura-kura ini sendiri ada pada leher panjangnya yang seperti ular, sangking panjangnya bahkan juga tidak bisa dimasukkan ke tempurung, perihal ini pula yang mengakibatkan semakin sangat jarang karena ketakmampuannya membuat perlindungan diri daripada predator.

17. Elang Flores


Elang Flores

Elang Flores sebagai elang yang hanya ada di Tanah air, mempunyai nama latin Nisaetus flores ini mempunyai ukuran fisik yang besar sampai 71-82 cm.. Elang yang cuma dapat diketemukan di sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur, dimulai dari Pulau Lombok, Sumbawa, Pulau Satonda, Rinca dan Flores masuk ke daftar hewan yang hampir musnah di Indonesia. Komunitasnya elang flores ada di teritori rimba dengan daratan rendah atau ketinggian sekitaran 1.000 mdpl yakni teritori Rimba Mbeliling dan Taman Nasional Kelimutu.

Sayang kehadiran elang flores semakin sangat jarang karena tingginya tingkat pemburuan. Data Tubuh Pelestarian Dunia IUCN sendiri memutuskannya jumlah komunitasnya masuk ke kelompok Krisis karena cuma sisa 100 sampai 240 pribadi dewasa saja. Dalam pada itu, dari data 2019 oleh Pemerintahan Wilayah Kabupaten Ende yang dikatakan Bupati Marsel Petu mengatakan komunitas Elang Flores di teritori Taman Nasional Kelimutu semakin terancam, sampai sekarang ini cuma sisa 10 ekor elang flores saja.

Elang Flores sebagai spesies yang paling kece, begitupula dengan beragam tipe fauna yang lain yang bisa kamu kenali di Seri The Wonders Of Nature: Hewan Kece Di Angkasa.

18. Dugong


Dugong

Hewan terlangka di Indonesia setelah itu Dugong. Dugong sebagai mamalia laut yang hidup indo pasifik, dan bisa ditemui disekitaran perairan samping utara Australia, bisa diketemukan di sejauh Samudra Hindia dan Pasifik. Dugong sebagai famili dekat dari gajah dalam jumlah yang semakin turun tiap tahunnya. Dia Dugong sebagai salah satunya Sirenia atau sapi laut yang bertahan hidup selainnya manatee dan sanggup capai umur 70 tahun,

Memiliki ukuran besar dengan Panjang badannya capai 3 mtr. dan berat 450 kg, Duyung atau dugong ialah salah satu mamalia laut herbivora, dia selanjutnya ikut menyamakan ekosistem lamun. Dugong. Bisa meredam napas sepanjang 12 menit saat cari makan, dan berenang. Sampai sekarang ini binatang ini masih sering dicari dan dimakan dagingnya walau sudah diproteksi oleh UU Pemerintahan Indonesia salah satunya Ketentuan no. tujuh tahun 1999 mengenai Pengawetan Tipe Tumbuhan dan Satwa dan UU Nomor 5 Tahun 1990 mengenai Pelestarian SDA Hayati, Dugong sendiri masuk ke kelompok biota perairan yang diproteksi.

19. Burung Merak



Hewan indonesia yang cukup sangat jarang setelah itu Burung Merak. Merak sebagai spesies burung yang terhitung dalam genus pavo dan afropavo dan terhitung kerabata ayam rimba datang dari dataran Asia seperti India, Pakistan Nepal Indonesia Myanmar, Burma, dan Afrika tengah. Terutamanya di Indonesia, Burung Merak bisa diketemukan di wilayah jawa sisi timur. Komunitasnya ada pada tempat tropis dan alam liar seperti rimba yang daratan rendah dan dekat sama sumber air yang mengucur.

Burung merak sendiri semakin banyak hidup di darat meskipun masih tetap mempunyai kekuatan untuk terbang pada kondisi tertentu.Mempunyai karakter warna yang ceria dan ekornya yang besar dan bisa diperkembangkan untuk mengundang perhatian musuh macamnya saat musim kawin datang. Selainnya sebagai lambang dari keelokan, bulu-bulunya mempunyai peranan sebagai pertahanan diri dari gempuran musuh.

Siang hari burung merak ini hidup di dataran secara bebas atau bergerombol. Saat malam harinya burung merak selanjutnya akan tertidur di tempat pohon-pohonan. Burung Merak sendiri hidup secara nomaden atau selalu beralih-pindah secara periodik. Sayang kehadiran burung merak mulai musnah kehadirannya, umumnya disebabkan karena pemburuan untuk diambil bulu-bulunya dan diperjualbelikan berbentuk bahan dekor dan kebakaran rimba.

20. Ikan Arwana Merah


Ikan Arwana Merah

Ikan arwana terdiri jadi beberapa macam tergantung pada berwarna misalkan pada Arwana silver yang dari Negara Brazil, Arwana hijau (Kalimantan Barat), dan arwana emas (Sumatera dan Malaysia), arwana merah sendiri terasa dari Kapuas Hilir, Indonesia dan menyebar di wilayah Kalimantan Barat seperti pada Sungai Kapuas dan Danau Sentarum.

Hewan ini sekarang sudah dipastikan sebagai hewan langka dan diproteksi oleh Surat Keputusan Bupati kapuas Hilir Nomor 6 Tahun 2001, yang mengatakan Danau Lindung Empangau Kalimantan Barat diputuskan sebagai danau lindung. Karena kelangkaannya disebabkan karena penangkapan liar warga. Disamping itu perairan yang terkontaminasi membuat arwana ini susah untuk tetap bertahan hidup. Selainnya Hukum tradisi diterapkan yang membuat cuma bisa diambil bila ukuran kurang dari 5cm.

21. Kucing Merah Kalimantan



Kucing Merah sebagai hewan epidemis asli Pulau Kalimantan dan menyebar kehadirannya dari daratan rendah, rimba rawa, sampai bukit-bukit. Kucing ini terhitung ke salah Hewan langka dan terancam kehadirannya semenjak tahun 2002 lalu. Mempunyai nama latin Catopuma badia kucing merah Kalimantan ini dikenal juga sebagai Kucing Borneo.

Jumlah komunitas di komunitas aslinya diprediksi cuma sisa sekitar 2.500 ekor saja karena rusaknya komunitas, bahkan juga di sejumlah tahun akhir kucing merah ini alami pengurangan komunitas sekitar 20%. Untuk ciri-ciri fisiknya, kucing merah mempunyai warna coklat kemerahan sama ukuran badan yang lebih kecil dibandingkan ukuran kucing secara umum, tetapi di tempat ekor dan badannya lebih Panjang, kepalanya juga lebih kecil dengan wujud telinga yang bundar.

22. Burung Cendrawasih


Burung Cendrawasih

Burung Cendrawasih dengan komunitas asli di daratan rendah ini sebagai burung sebagai maskot Pulau Papua. Terdiri jadi 41 spesies, dan menyebar di Papua Barat sekitar 38 spesiesnya, di pulau torres sampai ke Australia sisi timur. Tipe Cendrawasih yang paling dikenali salah satunya Cendrawasih Kuning Besar atau Cendrawasih Paradise Apoda.

Burung cendrawasih sendiri mempunyai ukuran yang bermacam bergantung tipe spesiesnya yang terdiri jadi spesies King Bird of Paradise (15 cm ukuran) sampai spesies Black Sicklebill (110 cm atau 1 mtr. ukuran). Karakter khusus burung cendrawasih berada pada warna bulu-bulunya yang memikat perhatian seperti merah, hijau, dan biru, berdasar nama ini juga pemberian nama burung ini misalkan pada cendrawasih kuning yang lebih menguasai pada warna kuningnya, cendrawasih merah yang menguasai warna merahnya, cendrawasing hijau dan biru juga begitu.

Burung Cendrawasih dipanggil bird of paradise di eropa atau burung dari surga. Sayang karena keelokannya ini burung cendrawasih jadi burung yang banyak dicari dan semakin sangat jarang kehadirannya. Cendrawasih sekarang jadi satu satwa yang diproteksi pemerintahan lewat UU No. 5 Tahun 1990 dan PP No. 7 Tahun 1999.

23. Macan Tutul Jawa



Macan Tutul Jawa ialah hewan yang dipastikan sangat jarang dan hampir musnah dan terhitung dalam red daftar di IUCN. Macan Tutul Jawa diproteksi berdasar UU 134 Tahun 1931 mengenai Pelindungan Binatang Liar. Macan tutul jawa sebagai spesies macan tutul yang mempunyai ukuran paling kecil dengan pandangan yang paling tajam.

Macan tipe ini ialah hewan epidemis yang cuma dapat diketemukan di Pulau Jawa sebagai komunitas intinya. Sekarang macan tutul jawa sudah diproteksi oleh pemerintahan Indonesia dan bisa diketemukan di Taman Nasional Gunung Besar Pangrango, Pulau Kangean, dan Pulau Nusakambangan, Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, sampai Taman Nasional Alas Purwo (Jawa Timur). Kelangkaan macan tutul sendiri disebabkan oleh pemburuan dan komunitasnya yang semakin hancur karena penebangan dan perluasan tempat.


Wednesday, April 27, 2022

3 Hewan endemik kalimantan yang langka dan dilindungi negara

 


Kalimantan
adalah daerah di Indonesia yang mempunyai teritori rimba hujan tropis yang luas. Tempat itu jadi lingkungan yang pas untuk banyak tipe fauna hidup, terhitung beberapa salah satunya ialah hewan epidemik.

Ini kali, rekan-rekan akan dibawa mengenali tiga fauna endemik ciri khas Kalimantan.

Tiga fauna itu ialah beruang madu, bekantan, dan burung raja-udang kalung-biru yang dilindungi karena sangat jarang.

Berikut akan diterangkan ciri-ciri dan beberapa hal menarik mengenai tiga fauna endemik ini.

1. Beruang madu



Beruang madu (Helarctos malayanus) ialah spesies beruang paling kecil di dunia dan salah satunya yang sedikitnya didalami. Mereka menempati rimba tropis Asia Tenggara, dimulai dari ujung timur India, Bangladesh, lewat Burma, Laos, Thailand, Kamboja, Vietnam, Malaysia dan beberapa pulau Sumatra dan Kalimantan.

Sejauh capaian mereka, beruang madu sedang terancam oleh penghancuran habitat, kebakaran rimba bertaraf besar, pemburuan untuk empedu dan anggota badan lain dan perdagangan hewan piaraan ilegal. Teror khusus untuk populasi beruang madu liar di Indonesia ialah lenyapnya habitat. Ini pada gilirannya memunculkan perselisihan di antara manusia dan beruang hingga beruang didorong keluar habitat alami mereka dan terkadang masuk ke kebun dan makan tanaman.

Beruang madu sudah dilindungi di Indonesia semenjak 1973. Ini ialah ilegal untuk diperjualbelikan atau mempunyai beruang madu dan beberapa bagian badannya. Walau pelindungan hukumnya yang lumayan bagus di atas kertas, pada hakekatnya penegakan hukum di Indonesia masih kurang kuat dalam realisasinya. Hal ini berlaku untuk banyak spesies sangat jarang dan terancam musnah yang lain seperti orangutan, bekantan, dan macan tutul. Hutan-hutan Dipterocarpaceae daratan rendah Kalimantan benar-benar kaya keberagaman hayati. Sayang, rimba ini cepat dihancurkan oleh penebangan pohon yang terlalu berlebih, alterasi jadi perkebunan kelapa sawit, dan kebakaran rimba. Tanah longsor, erosi, kekeringan lokal dan banjir, yang bertambah frekwensinya karena eksplorasi yang terlalu berlebih dan penghancuran.

Di tahun 1997, Gabriella Fredriksson mengawali riset periode panjangnya pada beruang madu di Rimba Lindung Sungai Wain. Rimba, berada dengan batasan-batas Balikpapan, sebagai rumah untuk sekitaran 50-100 beruang madu liar. Riset Gabriella dan usaha pelestariannya yang hasilkan publikasi dan perhatian yang terpusat pada beruang madu. Di tahun 2002, Balikpapan, salah satunya kota paling besar di Kalimantan-Indonesia, mengusung beruang madu sebagai maskot resminya.

2. Bekantan



Salah satunya kekayaan keberagaman hayati Kalimantan ialah bekantan atau Nasalis Larvatus. Sekarang ini populasi bekantan sangat mencemaskan, diprediksi cuma 20 beberapa ribu di Pulau Borneo, Sabah, Brunei, dan Serawak.

Spesies primata satu ini ialah primata sangat jarang dan epidemik Kalimantan. Sekarang ini IUCN Redlist mengategorikan hewan ini dalam status pelestarian "Terancam" (Endangered). Satwa ini jadi maskot (fauna identitas) propinsi Kalimantan Selatan berdasar SK Gubernur Kalsel No. 29 Tahun 1990 tanggal 16 Januari 1990.

Banyak panggilan nama yang dipunyai bekantan dari beragam wilayah dan negara. Orang Inggris mengatakan Long-Nosed Monkey atau Proboscis Monkey. Di Malaysia dinamai Kera Bekantan, Bangkatan untuk Bruney, dan Neusaap di Belanda. Orang Kalimantan sendiri memberi beberapa nama untuk sang kera seksi satu ini ibarat Kera Belanda, Pika, Bahara Bentang, Raseng, dan Kahau.

Keunikan yang paling menonjol selainnya mempunyai hidung besar, rupanya punyai ketidaksamaan fisik di antara betina dan jantan. Untuk bekantan jantan hidung yang dipunyai semakin besar dibanding yang betina tetapi hidung betina tidak sekecil monyet. Hidung bekantan jantan demikian besar yang kelihatan menggantung di atas mulut. Jika ingin makan sang jantan ini harus menggerakkan hidungnya keluar mulut agar menempatkan makanan ke mulut mereka.

Disamping itu, bekantan pintar mainkan gestur dalam beragam keadaan, seperti saat geram dan senang karena itu hidung mereka akan membesar dan berbeda merah. Jika pada kondisi bahaya bekantan akan keluarkan suara serupa klakson mobil yang keras seperti peringatan dan hidung mereka akan mencolok lempeng. Untuk bekantan hidung mempunyai peranan sebagai resonator saat bekantan bernada.

Perut besar yang dipunyai bekantan membuat mekanisme pencernaan mereka dapat makan daun sebagai suplai makanan khusus mereka. Dalam perut ada beberapa bagian sarat dengan bakteri yang mengolah selulosa. Bakteri ini menolong mengolah daun dan menetralisir toksin dalam daun tertentu. Besar perut bekantan seperempat dari berat tubuhnya, hingga tidaklah aneh jika bekantan kelihatan hamil tetap.

Tinggi bekantan jantan 2 sampai 2,5 kaki (66-72 cm), dan beratnya 16-23 kg, sementara betina 1,7-2 kaki (53-61 cm) panjang dan beratnya cuma 7-11 kg. Ekornya sama panjang dengan tubuh bekantan. Hewan ini dikenal juga sebagai hewan yang suka hidup bergerombol 12-27 ekor, ada pula yang mempunyai anggota 60 sampai 80 jantan dan betina. Kelompok-kelompok bekantan tidak banyak memiliki susunan untuk jenjangnya. Mekanisme sosial bekantan mempunyai dua tingkat, satu barisan yang anggotanya jantan semuanya yang terbagi dalam

anak, remaja dan jantan dewasa. Jantan remaja akan tinggalkan barisan pada usia sekitaran 18 bulan, dan tergabung dengan barisan yang semua anggotanya jantan.

Bulu-bulu bekantan coklat kemerahan di punggung dan pundak, sampai di sisi tengah. Dada mereka warna krem, kerah krem leher dan pinggang sampai bokong dan ekornya. Lengan dan kaki bekantan yang panjang dengan kulit tangan dan kaki abu-abu. Warna oranye semakin menarik perhatian dengan tutupi beberapa pundak dan ada seperti topi bulu-bulu merah gelap tutupi kepala bekantan.

Tidak itu saja kekhasan yang dipunyai bekantan. Mukanya unik karena warna merah-daging dengan mata kecil cokelat yang pintar. Telinganya kecil dan lempeng ke atas kepala mereka. Kekhasan bekantan ini, membuat bekantan kerap jadi maskot oleh pemerintahan dan swasta, seperti pada Asian Game, Dunia Fantasi, dan maskot propinsi Kalimantan Selatan. Ini tidak terlepas dari banyak faksi supaya kita melestarikan bekantan yang sekarang ini nyaris musnah.

Bekantan melahirkan satu bayi pada sebuah musim. Masa kehamilan mereka ialah sekitaran 166 hari. Umumnya mereka melahirkan bayi saat malam hari dan bayi yang baru lahir mempunyai muka biru dan bulu-bulu nyaris hitam yang jarang. Di umur 3 sampai empat bulan terjadi peralihan warna pada anak bekantan, semuanya mengisyaratkan mereka telah dewasa.

Beberapa betina sama-sama bekerja bersama, di mana mereka sama-sama jaga dan menyusui anak-anak bekantan lain. Bayi ini baru dapat terlepas dari si ibu sesudah setahun, ketika si ibu telah mempunyai bayi yang lain. Bekantan jantan akan capai kematangan seksual pada sekitaran 4-5 tahun dan betina dalam 4 tahun. Waktu itu umur mereka sekitaran 20 tahun.

Bekantan masuk ke keluarga spesies Genus Nasalis yang mempunyai dua subspecies Nasalis larvatus larvatus dan Nasalis larvatus orientalis.Untuk Nasalis larvatus larvatus tinggal nyaris di semua sisi pulau Kalimantan, dan Nasalis larvatus orientalis diam pada bagian timur laut dari Pulau Kalimantan. Bekantan dikenali sebagai hewan yang susah diamankan, lebih suka tingggal di rimba kombinasi, rimba bakau, rimba mangrove, rimba daratan rendah dekat air tawar, dan sungai.

Hewan ini cenderung pilih istirahat dan tidur di rimba tidak jauh dari saluran air. Mereka umumnya menghindar beberapa daerah terbuka dan permukiman manusia. Bekantan umumnya tidak bergerak lebih jauh dari 1.969 kaki (600 m) dari sungai atau perairan. Bekantan dikenali sebagai perenang terbaik, tapi berenang jika dibutuhkan saja.

Di tahun 1994, populasi bekantan di Kalimantan ditaksir beberapa 114.000 ekor (Bismark, 2002). Tetapi pada simposium PHVA bekantan tahun 2004, populasi bekantan ditaksir tinggal 25.000 ekor, dan yang ada di teritori pelestariannya 5.000 ekor. (K-RG)

3. Burung raja-udang kalung-biru



Burung Raja-udang kalung-biru (Alcedo euryzona) menjadi satu diantara burung sangat jarang sekalian burung dilindungi di Indonesia. Burung yang dinamakan sebagai Blue-banded Kingfisher ini sebagai burung pemakan ikan dari kerabat Alcedinidae.

Raja-udang kalung biru, biasa dicatat dengan Rajaudang kalung-biru, dengan bahasa Inggris dikenali sebagai Blue-banded Kingfisher atau Javan Blue-banded Kingfisher. Nama latin hewan ini ialah Alcedo euryzona Temminck yang memiliki dua subspesies yakni Alcedo euryzona euryzona dan Alcedo euryzona peninsulae. Tetapi oleh Sibley and Monroe (1990, 1993) seperti sudah diyakini IUCN ke-2 nya dibagi jadi dua spesies tersediri yakni Alcedo euryzona (Javan Blue-banded Kingfisher) dan Alcedo peninsulae (Malay Blue-banded Kingfisher).

Burung sangat jarang ini memiliki ukuran sedang dengan panjang badan sekitaran 18 cm. Bulu-bulunya warna biru tua dan putih. Bulu-bulu pada mahkota, segi kepala, dan sayap warna hitam kebiruan gelap. Mempunyai garis dada, bulu-bulu punggung dan ekor warna biru muda. Tutup telinga, kerongkongan dan perut memiliki warna keputih-putihan, tersapu merah karat. Pada burung Raja-udang kalung biru betina memiliki perut dengan bulu jingga-merah karat dan kerongkongan krem. Irislah warna coklat, ke-2 paruh burung jantan warna hitam, sedang paruh betina sisi atas hitam dan paruh bawah warna kemerahan. Kaki merah jelas. Burung betina pada ras Kalimantan dan Sumatera (Alcedo euryzona peninsulae) mempunyai garis dada, dan ras Jawa (Alcedo euryzona euryzona) tidak memiliki.

Burung Raja-udang kalung-biru sebagai pemalu yang menempati wilayah disekitaran sungai berbatu pada rimba hujan tropis sampai rimba mangrove di ketinggian sampai 1250 mtr. dpl. Burung pemakan ikan, tetapi konsumsi bermacam serangga, reptil kecil dan udang-udangan disekitaran sungai. Dan suara burung ini nyaris serupa saudara dekatnya, Raja-udang Erasia.

Wilayah tebaran burung ini terbatas di pulau Jawa untuk subspesies Alcedo euryzona euryzona. Dan untuk subspesies Alcedo euryzona peninsulae dapat ditemui di Sumatera dan Kalimantan (Indonesia) dan di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan Myanmar.

Populasi ras Jawa diprediksi sedikit pada range di antara 50-249 ekor burung dewasa. Bahkan juga berdasarkan catatan birdlife.org, sejak burung ini diketemukan pertama kalinya pada 1930, baru saja sekali ditemui kembali. Pertemuan itu terjadi di tahun 2009 lalu di Taman Nasional Gunung Halimun. Karenanya, IUCN Redlist yang semenjak 2014 mengelompokkannya sebagai spesies tertentu (Alcedo euryzona), memberi status Critically Endangered (Krisis).

Dan untuk subspesies Alcedo euryzona peninsulae, (IUCN Redlist mengklasifikannya sebagai spesies tertentu, Alcedo peninsulae) diprediksi memiliki populasi di antara 10.000 sampai 20.000 ekor burung dewasa. Dan IUCN Redlist, semenjak 2014 memasukkan sebagai spesies Near Threatened.

Di Indonesia burung Raja-udang kalung-biru terhitung salah satunya burung yang dilindungi berdasar Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 dan PP No. 7 Tahun 1999.

Kategorisasi Ilmiah: Kerajaan: Animalia. Filum: Chordata. Kelas: Aves. Ordo: Coraciiformes. Kerabat: Alcedinidae. Genus: Alcedo. Spesies: Alcedo euryzona.

Nach, itu lah tiga fauna endemik Kalimatan yang berstatu sangat jarang dan dilindungi.