• Si predator eksotik, hewan bercorak loreng-loreng ini mampu berlari dengan kecepatan sampai 60 km/jam. Cakar tajamnya sanggup mencabik mangsa cukup dengan satu sikatan saja. Suara aumannya bahkan juga dapat kedengar sampai 3 km.
  • Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) sebagai spesies yang langka di dunia. Kehadiran badak jawa di Indonesia cuma di TNUK dan teronsentrasi di Semenanjung Ujung Kulon.
  • Burung rangkong atau enggang merupakan Satu diantara burung mempunyai ukuran besar sebagai kekayaan fauna di Indonesia. Disamping ukuran tubuhnya yang besar, rangkong pun miliki paruh besar, panjang, tetapi enteng.
  • Owa Jawa atau Hylobates moloch ialah semacam primata anggota suku Hylobatidae dengan angka populasi di antara seribu sampai dua ribu ekor saja.
  • Sesuai namanya, Jalak Bali burung yang mempunyai nama Leucopsar rothschildi datang dari Pulau Bali. Warga di tempat mengenalinya sebagai curik putih atau curik Bali dan sudah jadi maskot Pulau Dewata semenjak 1991.
Showing posts with label owa jawa berasal dari. Show all posts
Showing posts with label owa jawa berasal dari. Show all posts

Saturday, May 7, 2022

13 Fakta Owa Jawa, Primata Asli dari Pulau Jawa Yang Setia Dengan Pasanganya Sampai Akhir Hayat


Fakta Owa Jawa
, Walau primata ini sudah dalam pelindungan hukum Indonesia semenjak tahun 1925, kenyataannya populasi Hylobates Moloch ataupun lebih dikenali bernama Owa Jawa terus alami penurunan, bahkan juga telah masuk daftar spesies yang terancam punah. Pemicunya, habitat Owa Jawa yang hancur. Walau sebenarnya kehadiran Owa Jawa malah memberikan keuntungan, karena sebetulnya mereka turut berperanan dalam menebarkan benih beragam pohon di rimba, dalam kata lain turut melestarikan rimba.


Karena kurangnya pelindungan dan perawatan rimba sebagai rumah Owa Jawa, selanjutnya manusia-manusia tidak bertanggungjawab ambil peluang dengan mengincar dan tangkap bayi Owa Jawa untuk diperjualbelikan ilegal sebagai piaraan.


Dibalik kelucuannya, penting untuk mengenali lebih dekat Owa Jawa, supaya kita bisa memberikan dukungan penuh tugas dari beberapa pelestarian Owa Jawa yang aktif sekarang ini berusaha jaga kehidupan primata tidak berbuntut ini melalui pemulihan dan pelepasan liar kembali. Baca bukti-buktinya berikut ini.


1. Punyai banyak nama panggilan, satu diantaranya wau-wau


Fakta Owa Jawa

Fakta Owa Jawa yang pertama Owa bernama latin Hylobates moloch ini dapat disebutkan dengan panggilan wau-wau, owa kelabu, keuweung, javan gibbon, silvery gibbon, silvery javan gibbon, dan moloch gibbon. Menurut riset dari Permana, dkk., nama Keuweung sendiri sebagai panggilan untuk owa jawa dari warga sunda lokal sekitaran Taman Nasional Ujung Kulon. Panggilan itu bermula dari sepasang anak-anak yang dibuang ke rimba (yang dengan bahasa sunda disebutkan leuweung) oleh paman mereka. Kalian bisa juga baca cerita secara lengkap di Instagram


2. Telah terancam punah semenjak 2008



Owa JAWA ini telah dengan status terancam punah (endangered) semenjak tahun 2008 berdasar IUCN atau dengan bahasa indonesia dapat disimpulkan jadi Uni Internasional untuk Pelestarian Alam. Status terancam punah ini bisa disimpulkan jika owa jawa berpotensi untuk punah di masa datang, bersedih sekali ya.


3. Mempunyai dua subspesies



Fakta Owa Jawa  yang ke tiga Walau cuma dikenal dari 1 pulau yakni jawa, primata dari kerabat Hylobatidae ini mempunyai dua subspesies, loh! Subspesies ini ditetapkan dari wilayah sebarannya, yakni Hylobates moloch Moloch untuk owa jawa yang menyebar pada bagian barat (Jawa Barat), dan Hylobates moloch pongoalsoni, yakni owa yang menyebar di sisi tengah (Jawa tengah). Ketidaksamaan ke-2 nya bisa kelihatan pada warna rambut dominannya, H. moloch moloch warna lebih gelap dibandingkan H. moloch pongoalsoni.


4. Tidak diketemukan di pulau Jawa sisi timur



Walau namanya owa jawa, primata ini tidak bisa diketemukan di semua pulau jawa loh! Kenyataannya, penebaran owa ini benar-benar terbatas, yakni cuma di Jawa Barat dan Jawa tengah. H. m. moloch menempati kawasan-kawasan pelestarian di Jawa Barat seperti Gunung Halimun sampai Banten, seperti TN Ujung Kulon. H. m. pongoalsoni bisa dijumpai disekitaran Gunung Slamet sampai ke Pegunungan Dieng.


5. Mempunyai rambut abu muda di wajah yang terlihat seperti alis



Fakta Owa Jawa
yang ke lima, Owa jawa dapat dikenal dengan rambut lebat dan panjang warna abu abu keperakan yang tutupi semua badannya. Ciri-ciri khusus yang dipunyainya ialah ada rambut warna abu jelas yang melingkari muka sampai dagu, dan rambut yang tumbuh di bagian atas kepala (mahkota) warna abu-abu gelap atau hitam. Dia tidak mempunyai ekor, tetapi mempunyai tungkai dan lengan yang panjangnya sekitaran 2x panjang tangkai badannya.


6. Dapat tidur sekalian duduk



Owa mempunyai bantalan berdaging tanpa saraf yang menempel pada tulang pinggul (ischial callosities), nach bantalan berikut yang memungkinkannya mereka untuk tidur dengan sikap duduk. Nikmat sekali ya tentu mempunyai bantalan duduk alami, dapat tidur dimana saja.


7. Komunitasnya ada di rimba Jawa Barat dan Jawa tengah



Menurut New England Primate Conservancy (NEPC), sebuah organisasi non keuntungan di Massachusetts, United States, populasi Owa Jawa sekarang ini cuma capai sekitaran 4100 s/d 4500 Owa Jawa. Itu sama dengan 900 keluarga yang terbagi dalam ayah, ibu dan tiga anak. Mereka menyebar cuma di Jawa Barat dan Jawa tengah.


Bila pernah mengeksploitasi rimba hujan di pegunungan, seperti pada Gunung Besar Pangrango, Gunung Slamet, Gunung Halimun, Gunung Prau, dan Taman Nasional Ujung Kulon, kemungkinan untung bila kita dapat berjumpa hewan Owa Jawa. Masalahnya mereka memang suka tinggal di tempat daratan rendah. Dalam kata lain, Owa Jawa suka dengan temperatur yang lembap dan lokasi yang kurang sinar matahari.


8. Makanan Owa Jawa



Owa Jawa paling sukai ambil makanan dari pohon sejenis pohon ara, satu diantaranya pohon buah Rao. Bukan hanya buah matangnya saja lho, sisi seperti buah mentah, daun muda, tangkai dan serangga yang berada di pohon buah Rao, akan disantap Owa Jawa. Karena mereka juga perlu konsumsi karbohidrat, protein, air, gula, serat dan lemak seperti kita.


9. Geraknya gesit dan kuat



Gerak Owa Jawa saat beralih dari 1 tangkai ke tangkai yang lain terhitung cepat. Nyaris sama dengan kecepatan manusia lari yakni 56 km/ jam. Yang buat lebih takjub, sekali melonjak Owa Jawa dapat capai 15 mtr.. Kehebatannya didapat karena Owa Jawa mempunyai lengan yang panjang dan kuat. Pundak dan pergelangan tangannya fleksibel berputar-putar saat tergantung pada pohon atau tali.


10. Setia dan sama-sama tergantung keduanya



Salah satunya argumen kenapa Owa Jawa jadi hewan yang terancam punah ialah karena Owa Jawa setia cuma pada satu pasangan sepanjang umurnya, alias punyai karakter monogami. Jika ada satu saja bagian keluarga Owa Jawa yang diambil paksakan, dijauhkan dari keluarganya, atau mati, karena itu anggota lainnya dapat depresi, bahkan juga sampai mengakibatkan kematian. Ini yang mengakibatkan susahnya populasi Owa Jawa bertambah secara mencolok.


11. Populasi Owa Jawa yang susah dipertingkat



Karakter monogami yang dipunyai Owa Jawa, kemungkinan untuk beberapa orang dipandang kece dan unik. Sayang, di lain sisi karakter itu malah bikin rugi ekosistem. Karena sekali saja mereka alami trauma karena kehilangan pasangan atau bagian keluarga, karena itu benar-benar susah untuk Owa Jawa untuk move on. Bahkan juga bila harus dijodohkan dalam pemulihan, periode waktunya dapat benar-benar lama. Ada satu bayi Owa Jawa lahir proses dari perjodohan saat pemulihan saja, sangat disyukuri beberapa sukarelawan dan pencinta Owa Jawa yang bekerja di Pelestarian Owa Jawa.


12. Berbicara dengan memakai nyanyian dan gerakan badan



Untuk dapat sampaikan hati mereka ke Owa Jawa lainnya, primata satu ini memakai suara uniknya yang keras seakan-akan sekalian menyanyi. Kadang-kadang Owa Jawa lakukan gerakan badan dan ekspresikan mukanya. Pergerakan yang terkesan 'kasar' seperti menggerakkan, memukul, menarik sampai menggigit secara perlahan kerap digunakan jika gerakan badan sudah tidak cukup kembali.


Umumnya, komunikasi yang dikatakan Owa Jawa terkait dengan batasan daerah, cari 'perhatian' pasangan atau sebagai pernyataan jika Owa Jawa yang ini sudah mempunyai pasangan.


13. Waktu reproduksi Owa Jawa



Fakta Owa Jawa yang ke tiga belas, Untuk manusia, umur sembilan tahun masih waktunya bermain dan belajar. Tetapi untuk Owa Jawa, usia begitu mereka telah sanggup untuk mempunyai bayi.


Saat yang diperlukan Owa Jawa Betina saat hamil ialah 7 bulan. Berbeda 2 bulan dengan manusia nih. Dan untuk berat tubuh lahir juga, angkanya berbeda jauh sama kita. Owa Jawa umumnya melahirkan bayi sekitaran 376 gr. Benar-benar enteng ya?


Tetapi sekalipun bayi Owa Jawa wafat saat bayi, karena itu perlu waktu 12 sampai 16 bulan untuk dapat hamil kembali.


Telah semakin jatuh hati sama Owa Jawa? Mudah-mudahan semakin bertambah yang sadar dan perduli dengan Owa Jawa, jika mereka primata asli Indonesia yang kehadirannya harus dijaga dan dilestarikan.

Mengenal Owa Jawa, Habitat, Populasi Dan Penyebab Owa Jawa Langka Dan Hampir Punah



Owa Jawa atau Hylobates moloch ialah semacam primata anggota suku Hylobatidae dengan angka populasi di antara seribu sampai dua ribu ekor saja. Owa Jawa ialah tipe kera atau primata dari spesies ‘owa' yang paling langka di dunia dan menyebar hanya terbatas di Jawa sisi barat.

Salah satunya ciri-ciri pengenalan dari Owa Jawa ialah badan primata yang tidak berbuntut dan berlengan relatif panjang dibanding dengan panjang badannya sendiri. Tangan yang panjang dan berotot kuat ini tentu saja dipakai sebagai sandaran untuk mengayun dan beralih dari dahan pohon tinggi yang satu ke pohon tinggi selanjutnya.

Badan Owa Jawa warna keabu-abuan dengan segi atas kepala lebih gelap dan muka warna kehitaman. Berikut beberapa keunikan dari Owa Jawa yang harus dipahami karena tidak seluruhnya orang sudah pernah menyaksikan primata yang langka ini.


Habitat Owa Jawa



Habitat Owa Jawa menyebar di hutan-hutan yang masih ada di Jawa. Habitat besar mereka menyebar di Taman Nasional Ujung Kulon, wilayah Gunung Halimun dan Gunung Salak, dan Taman Nasional Besar Pangrango. Badannya warna keabu-abuan dengan segi kepala lebih gelap dan muka warna kehitaman.

Owa Jawa hidup di atas dahan-dahan tinggi pohon-pohonan. Mereka hidup bergerombol dan bergerak telusuri kanopi rimba dengan berayun dan memanjat dari 1 pohon ke pohon lainnya. Pada pagi hari dan siang hari, Owa Jawa akan keluarkan suaranya untuk mengumandangkan wilayah teritorinya. Untuk tetap bertahan hidup, mereka makan buah-buahan, daun, dan bunga-bunga yang tumbuh di habitat mereka.


Setia Sama Pasangan



Owa Jawa sebagai hewan yang dikenali setia dengan 1 pasangan sepanjang umur mereka. Maka dari itu, mereka dikenali benar-benar selective saat menentukan pasangan hidup.

Umumnya sekeluarga pokok Owa Jawa Terbagi dalam pasangan jantan dan betina dan satu sampai 2 orang anak. Owa betina akan melahirkan tiap 3 tahun sekali dengan periode memiliki kandungan sepanjang 7 bulan. Sesudah lahir, si anak akan disusui sepanjang delapan belas bulan lama waktunya.

Si anak akan tinggal dengan orang tuanya sampai berumur 8 tahun. Kemudian baru ia akan pisahkan diri untuk cari pasangannya sendiri.


Rutinitas Owa Jawa



Owa Jawa hidup bergerombol dengan jumlah kecil seperti keluarga pokok yang terbagi dalam pasangan jantan dan betina dan dengan 1 atau dua anaknya yang kecil. Harus dipahami jika ciri-ciri khusus dari Owa Jawa dewasa ialah kesetiaan dari pasangan jantan dan betinanya. Pasangan Owa Jawa ialah pasangan monogami di mana sang jantan akan setia dengan pasangan betinanya.

Owa betina akan melahirkan tiap 3 tahun sekali dengan periode memiliki kandungan sepanjang 7 bulan. Bayi Owa Jawa akan disusui oleh sang betina sepanjang sekitaran delapan belas bulan lama waktunya dan akan tinggal di dalam lingkungan keluarga kecil ini sampai dewasa sampai sekitaran usia 8 tahun, baru selanjutnya akan pisahkan diri untuk cari pasangannya sendiri. Pikirkan bila terjadi pemburuan liar pada barisan Owa Jawa dan pisahkan salah satunya dari hewan ini dari lingkungannya.

Kera ini terhitung hewan diurnal dan arboreal yang maknanya hidup di atas dahan-dahan tinggi pohon-pohonan dan pemakan buah-buahan, daun, dan bunga-bungaan disekelilingnya. Barisan untuk barisan dari Owa Jawa bergerak telusuri kanopi rimba dengan berayun dan memanjat dari 1 pohon ke pohon yang lain dengan ayunan tangan yang gesit dan dinamis.

Barisan Owa Jawa ialah hewan teritorial yang hendak menjaga wilayahnya dari barisan lain. Pada pagi hari dan siang hari, Owa betina akan keluarkan suaranya untuk mengumandangkan wilayah teritorinya. Dari suara kuat yang bersahut-sahutan ini, kita bisa ketahui jumlah barisan Owa yang ada dan seterusnya berapakah jumlah pribadinya juga.

Salah satunya kekhasan dari primata epidemik asal dari Indonesia ini ialah kesetiaannya pada pasangan hidup. Owa Jawa sebagai satwa yang paling selective saat menentukan pasangan hidup dan terhitung satwa yang monogamik, ia akan mempunyai pasangan yang diputuskannya untuk sepanjang umurnya.

Demikian setianya karena itu jika pasangannya mati, karena itu owa yang ditinggalkan mati itu tidak cari pasangan lain dan akan hidup menyendiri sampai akhir hayatnya. Karakter ini juga memengaruhi kehidupan keluarga pasangan owa pada sebuah ikatan keluarga yang erat.

Beberapa kasus pemburuan ilegal di mana induk owa dibunuh untuk diambil bayinya mengakibatkan si bayi juga tidak hidup lama tanpa kehadiran induknya. Mereka bisa menjadi benar-benar depresi kehilangan induk dan pada akhirnya mati juga. Sementara keluarga yang ditinggal karena satu diantaranya terbunuh akan jadi depresi, sakit-sakitan, lalu akan mati pada akhirannya.

Periode kelahiran yang lama, dan karakter monogami dari hewan ini, dan karakter teritorial dari barisan keluarga Owa Jawa, jadikan pelestarian primata ini benar-benar sulit untuk digerakkan. Dan, tidaklah aneh karena ada pemburuan liar, hewan ini menjadi satu diantara yang paling dilindungi karena banyaknya yang makin berkurang.


Terancam Punah



Di habitat aslinya, Owa Jawa hampir musnah. Apa lagi, periode kelahirannya lumayan lama dan beberapa kasus pemburuan ilegal ramai dilaksanakan.


Walau sebenarnya selainnya dapat memberikan ancaman populasi Owa Jawa di rimba, pemburuan itu akan berpengaruh pada keadaan psikis Owa Jawa. Bayi Owa Jawa yang diambil itu mengakibatkan ia akan depresi kehilangan induknya dan pada akhirnya mati. Sementara keluarga yang ditinggal karena anggotanya terbunuh bisa menjadi stress, sakit-sakitan, dan mati.

Apa lagi jika pasangannya mati, satu ekor Owa Jawa tidak cari pasangan lain dan hidup menyendiri sampai akhir hayatnya.


Pemicu Owa Jawa Langka Dan Nyaris Musnah



Owa jawa (Hylobates moloch) sebagai salah satunya satwa langka dan dilindungi. Keberlangsungan hidup di habitat alaminya makin terancam. Hal itu terjadi salah satunya karena pemburuan, perawatan, dan imbas masalah sampai penghancuran habitat alami. "Owa jawa ini satwa dilindungi dengan status pelestariannya hampir musnah dan jumlah di habitat alaminya cukup krisis," kata Kepala Balai Besar Pelestarian Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat


Pelindungan dengan Pelestarian



Sebagai salah satunya hewan asli dari Pulau Jawa dan hampir musnah karena itu Owa Jawa harus dilindungi dengan pelestarian. Habitat asli Owa Jawa paling besar ada di Taman Nasional Ujung Kulon, wilayah Gunung Halimun, Gunung Salak, dan Taman Nasional Gunung Besar Pangrango.


Untuk jaga populasi Owa Jawa di beberapa daerah ini, polisi rimba lakukan patroli di taman-taman nasional dan lakukan publikasi ke warga mengenai keutamaan jaga rimba karena pada tempat berikut habitat Owa Jawa ada. Kerusakan rimba dengan buka tempat akan mengubah ekosistem di wilayah sekitaran dan mengusik habitat hidup Owa Jawa dan satwa-satwa lain.


Karena itu beberapa hal tertera di atas harus dijauhi dengan payung hukum yang berjalan. Owa Jawa jadi satwa yang dilindungi menurut Ketentuan Menteri Lingkungan Hidup no. P92 tahun 2018 mengenai peralihan Ketentuan Menteri Lingkungan Hidup no. P20 taun 2018 mengenai Pelindungan Tumbuhan dan Satwa Liar. Karena itu Ora Jawa masuk ke daftar merah IUCN dengan status vulnerable atau hampir musnah.


Salah satunya pelindungan pada Owa Jawa dengan memantau komunitasnya dan menanami beberapa jenis tanaman asli untuk sumber pakan dari Owa Jawa tersebut. Siapakah yang tidak mau primata yang setia ini masih tetap isi hutan-hutan di Taman Nasional Jawa Barat?


Bagaimana juga Owa Jawa harus dilindungi dan diperkembangbiakkan lebih kembali karena mereka ialah hewan asli dari Pulau Jawa. Kita pasti tidak mau menyaksikan mereka musnah karena ketidakpekaan kita pada pelindungan satwa setia ini.